Ms. Sophia

Bulan November tahun 2000an (gw nggak bisa bilang tahun berapa pastinya), waktu gw masih sekolah, gw pernah naksir guru baru. Namanya Sophia Hermawan, guru Matematika, cantik, sexy, pengertian, penyayang, dan pokoknya tipe ideal gw banget. Gw tahu apa yang gw rasain ini salah, karena dia guru gw. Seharusnya gw nggak boleh jatuh cinta sama guru gw sendiri.
Tapi, itulah perasaan yang nggak bisa ditebak kapan dan dimana dia datang, dan antara siapa dengan siapa.

Gw pernah pacaran sama teman sebaya gw, berharap bisa buat dia cemburu. Gw ngejalanin hubungan palsu itu setengah hati dan berharap Ms. Sophia bakal ngelirik gw. Memang gagal, tapi itu salah satu usaha gw. (Satu-satunya yang membuat gw tenang adalah saat itu gw bisa sedikit berusaha, meskipun gagal.)

Tiga bulan itu perkenalan yang singkat memang, progressnya datar saja, tapi gw cukup puas karena akhirnya ada satu cara yang bisa ngebuat gw deket sama dia. Sekali, gw menggagalkan ujian gw. Bukannya mau sombong, tapi matematika itu pelajaran mudah buat gw. Saking desperate nya gw mikirin cara pdkt sama dia, akhirnya gw pura-pura nggak bisa ngerjain ulangan harian pada waktu itu. Dengan cara itu, gw dapat bimbingan langsung dari dia, barengan sama beberapa orang dari angkatan yang sama. 2 kali bimbingan itu gw jalanin, dan gw berhasil dapat kesempatan nganterin dia pulang.

Waktu itu bulan Februari. Setelah semua usaha gw dan gw berhasil deket dan bisa santai ngomong sama dia, meskipun belum bisa mengutarakan perasaan gw ke dia, gw sudah ngerasa senang. Sebagai remaja labil, gw nulis ratusan puisi gombal yang nggak pernah bisa gw kasih ke dia. Gw takut, seandainya dia tau perasaan gw, dia bakal mengambil tindakan dan menekankan kembali garis tegas antara guru dan murid. Gw udah cukup senang dengan posisi yang sekarang bisa gw tempati, jadi kepercayaannya dia dan bisa selalu bisa ada di sampingnya, setidaknya ketika mata pelajaran matematika, di kelas, gw bebas jadi asistennya. Sebagai cowok, gw nggak boleh kehilangan logika. Gw nggak boleh kalah. Minimal harus ada ‘win win solution.’

Akhir bulan Maret, dia bilang ke gw, dia akan menikah dengan kekasih lamanya yang ternyata kembali lagi setelah bertahun-tahun menghilang. Menurut gw, laki-laki itu egois. Masa menghilang dengan alasan mau fokus cari modal untuk menikah.
Pada waktu itu, gw sampai pada tahap ‘denial’, pokoknya gw nggak mau percaya dengan alasan apapun yang dia berikan ke gw ketika dia bilang mau berhenti kerja sebagai guru. Sebelum bulan itu habis, dan gw udah nggak punya kesempatan lagi, gw memutuskan untuk menyatakan cinta sama dia. Entah apa yang gw harapkan waktu itu.

Jawabannya sih sudah pasti. Dia nolak gw dengan kalimat, “Tapi aku ini gurumu…” dan di akhir kalimat itu ada senyum yang paling manis yang pernah gw lihat seumur hidup gw.
Setelah hari itu, gw kabur dari asrama dan menghilang karena patah hati.
Well, sebenarnya sih gw balik ke rumah ortu dengan alasan liburan. Ortu gw agak cuek. Sibuk dengan pekerjaan mereka. Nggak peduli dengan keadaan gw. Jadi, intinya mereka nggak tahu (dan nggak khawatir) kalau gw jujur sekalipun.

Terakhir gw tahu, calon suami Sophia sudah mempersiapkan semuanya, termasuk pernikahan yang dilangsungkan di awal bulan April, yang berarti dua minggu setelah gw kabur sejak akhir Maret.
Gw dapat undangan. Semua orang nyariin gw. Tapi semua itu nggak gw gubris. Gw yang waktu itu adalah remaja labil yang sedang patah hati. Gw ganti email, ganti nomer telpon, dan berharap bisa berganti hati.
Tapi, kenyataannya, sampai detik ini, gw gagal.

Akhirnya salah seorang teman gw berhasil menemukan gw dan membawa kabar bahwa gw dipanggil balik ke asrama awal bulan Mei itu dengan ancaman gw bakal drop out kalau nggak muncul. Akhirnya gw balik ke asrama tanggal 5 Mei.
Suasana sekolah nggak sama tanpa Sophia…

Waktu itu, di komputer asrama gw harus login dengan email lama gw. Ternyata banyak email dari Sophia. Dia kirim foto-foto wedding nya, cerita tentang betapa bahagianya dia dengan suaminya, bulan madunya yang menakjubkan, dan betapa kangennya dia sama gw, yang sudah dianggapnya sebagai adik kecil yang paling dia sayang.
Tapi, email terbaru yang masuk ke akun email gw benar-benar bikin gw patah hati.
Email itu dari akun lain. Bukan milik Sophia. (Ini gw copas dari email itu).
Tertanda tanggal 2 Mei, 19:38:45

Dear Sony,
Nama saya Surya Nugroho, suami Sophia.
Pertama saya ingin memberitahu bahwa Sophia sangat merindukanmu. Kenapa kamu tidak pernah membalas emailnya? Atau menelponnya? Pihak sekolah mengatakan mereka juga sudah mencoba menghubungi kamu, tapi tak pernah berhasil. Maaf atas keputusan kami yang terburu-buru untuk menikah. Sophia sangat menginginkan kamu untuk hadir pada pernikahan kami. Saya hanya ingin kamu ikut berbahagia untuk Sophia.

3 hari yang lalu, Sophia ke sekolah mencarimu. Dia benar-benar khawatir dan merindukanmu.
Oya, dia sudah hamil dan ingin sekali memberitahumu. Katanya orang pertama yang harus tahu tentang ini selain saya adalah kamu. Dia sangat bahagia.
Sayangnya, dalam perjalanan pulang dari sekolah, dia mengalami kecelakaan. Motor yang dikendarainya jatuh di turunan dengan belokan tajam dekat rumah kami. Kandungannya lemah karena benturan keras dan dia mengalami pendarahan. Dia dibawa ke rumah sakit oleh orang sekitar kompleks yang menyaksikan kecelakaan itu. Saya sangat menyesal karena tidak ada di sana saat itu.
Dia sudah berusaha sangat keras, berjuang untuk hidupnya meskipun saya tahu hati kecilnya pasti sangat kecewa karena harus kehilangan bayi dalam kandungannya.
Tapi tadi pagi, dia sudah pergi. Akhirnya dia meninggal dalam perjuangannya. Saya tidak sanggup menggenggam tangannya yang dingin. Hati saya ikut hancur karena wanita yang saya cintai harus pergi selamanya. Mungkin ini juga bagian karma saya yang pernah meninggalkannya sendiri.

Sophia berpesan untuk mencari mu dan menyampaikan salam hangatnya. Bahwa dia merindukanmu, dan mengatakan padamu, kamu harus jadi laki-laki sukses yang bisa menyenangkan wanita yang kamu sayang nanti.

Mungkin maaf ini terlambat. Tapi saya mohon, maafkan saya, dan maafkan Sophia.

 

Rgrds.

 

Gw nggak peduli orang bilang gw cengeng.
Gw nyesel karena waktu itu gw egois. Gw sadar gw sama sekali nggak benci Sophia atau suaminya. Tapi dia cinta pertama gw dan cinta pertama ini benar-benar sulit untuk gw lupain.
Banyak cewek yang datang ke dalam kehidupan gw, tapi cuma Sophia yang nggak bisa tergantikan. Cinta yang terlalu cepat datang, dan cepat pergi. Yang pertama, tapi semoga bukan yang terakhir.

Tahun ini juga, kemarin tanggal 2, gw datang ke makamnya. Memperingati ke-egoisan gw sendiri. Merenung dan galau sampai gw nggak menyentuh kompie dan nggak hadir di blog.
Hmm… mungkin bulan depan, gw bakal ganti blog lagi. Haha… Ya, ini akibat rasa bersalah dan rasa cinta gw yang saling berlomba menguasai diri gw. Gw butuh pelarian. Atau, gw sebenarnya belum menemukan ‘perhentian’.

 

(Hmm… gw males baca ulang postingan ini dari atas sampai bawah. Kalau ada sedikit miss di sana-sini, gw mohon maaf karena selama nulis ini pun gw masih sambil nangis. 😛 )

Advertisements

About BrokenInfinity8

There's no 'forever'... The infinite is already broken. View all posts by BrokenInfinity8

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: