Permen Rasa Pisang

Selesai dengan masalah palang pintu, akhirnya gw jalan masuk ke pusat perbelanjaan.
Setiap orang yang gw lewati senyum-senyum ngeliat gw. Beberapa langsung menghindar memberi jalan supaya gw bisa lewat sambil melempar pandangan aneh. Begitu ngelewatin cermin di salah satu etalase, barulah gw sadar, wajah gw sumringah kelewat lebar hampir keliatan seperti om-om mesum. Mengingat kejadian aneh yang gw saksikan sebelumnya, mungkin gw cuma lupa diri.

Gw masuk ke supermarket itu, ambil troly, terus jalan ke tempat obat. Ekspresi muka sudah gw benerin tadi.
Ah, btw persediaan obat migrain gw abis. Seperti pada postingan sebelumnya, gw butuh (ketergantungan) obat untuk berjaga-jaga.
Dan, mungkin gw juga butuh obat anti depresi.
(Dan, ya gw tahu nggak akan nemuin obat jenis itu di mall seperti ini… Itu cuma terlintas dalam pikiran gw, sedikit…)

Di tempat obat topical / obat bebas (otc), gw berdiri sambil cari-cari di mana posisi obat yang biasa gw pake itu dipajang.
Di samping gw ada ibu-ibu yang anaknya nangis merengek minta sesuatu.
Si ibu terlihat bingung menarik anaknya yang makin keras menangis.
Gw curi-curi dengar.

“Maaaa~~ mauuu……!!” kata anak itu di sela-sela tangisannya.
“Tapi nak, itu bukan permen,” sahut si ibu setengah rikuh karena orang-orang mulai berdatangan melihat ke arah mereka.
“Itu kan kayak yang ada di rumah… mauuu!!” tangisan anak itu makin keras.
“Udah ah… ayo, nggak enak tuh diliatin orang. Ntar pak satpam nya ke sini lho…”
(Tipuan tua, ngancem laporin satpam kalo anaknya bandel nggak mau diatur di mall-mall)
“Pokoknya mau….!!!!”
Si anak mulai masang posisi duduk nendang-nendang, nangis nya makin kejer. Karena mungkin merasa makin nggak enak dilihat orang-orang di sekitar, si ibu akhirnya mengalah.
“Ya… yaudah. Ibu belikan,” kata si ibu setengah berbisik sambil menarik gendong anaknya yang masih nangis.
“Aku mau yang rasa pisang ma..” kata si anak. Tangisnya mulai berhenti dalam gendongan si ibu.
Sambil berjalan sedikit cepat ke arah rak obat itu lagi, gw menyaksikan dengan seksama ke mana arah tangan si ibu.
Rupanya, permen yang dimaksud si anak itu nggak lain adalah kondom merk F***** banana flavor.
Kemudian si ibu dan anak itu dengan cepat menghilang di antara pengunjung mall lainnya menuju ke kasir.
Orang-orang (termasuk gw) melongo mengikuti arah mereka pergi.

Ada apa dengan edukasi anak-anak jaman sekarang??  😀

Advertisements

About BrokenInfinity8

There's no 'forever'... The infinite is already broken. View all posts by BrokenInfinity8

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: