Filsafat: The beginning

Pelajaran yang paling heboh menurut gw adalah filsafat.
Dia adalah dasar dari segala macam pelajaran di dunia ini. Basic nya kita belajar logika, logika bahasa dan logika berpikir.
Dan keseluruhan dari filsafat itu sendiri adalah studi tentang seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis dan dijabarkan dalam konsep mendasar. Jadi, nggak bisa diuji dengan mudah melalui percobaan atau eksperimen, melainkan hanya menjabarkan masalah yang ada dan dicari solusinya berdasarkan adu argumen dan alasan yang tepat.
Selain menarik karena layak diperdebatkan, nuansa khas filsafat, yaitu spekulasi, keraguan, rasa penasaran dan ketertarikan, merupakan daya tarik yang menjadi candu bagi tiap orang yang berkecimpung di dalamnya.
Filsafat juga bisa berarti perjalanan menuju sesuatu yang paling dalam, sesuatu yang biasanya tidak tersentuh oleh disiplin ilmu lain dengan sikap skeptis yang mempertanyakan segala hal.

Secara etimologi kata falsafah atau filsafat dalam bahasa Indonesia merupakan kata serapan dari bahasa Arab فلسفة, yang juga diambil dari bahasa Yunani; Φιλοσοφία philosophia. Dalam bahasa ini, kata ini merupakan kata majemuk dan berasal dari kata-kata (philia = persahabatan, cinta dsb.) dan (sophia = “kebijaksanaan”). Sehingga arti harafiahnya adalah seorang “pencinta kebijaksanaan”.

Kata filosofi yang dipungut dari bahasa Belanda juga dikenal di Indonesia. Bentuk terakhir ini lebih mirip dengan aslinya. Dalam bahasa Indonesia seseorang yang mendalami bidang falsafah disebut “filsuf”.

Dari dunia barat, pahlawan filsafat gw antara lain:  Plato, Thomas Aquinas, Réne Descartes, Immanuel Kant,  Karl Heinrich Marx, Friedrich Nietzsche, dan Jean-Paul Sartre.
Sedangkan dari dunia Timur Tengah, gw punya Kahlil Gibran dan Ibnu Sina.

(Yang ini gw ambil dari wikipedia bahasa Indonesia, yg mau baca lengkap mampir ke sana aja ya 😛 )
Filsafat, terutama Filsafat barat muncul di Yunani semenjak kira-kira abad ke 7 S.M.. Filsafat muncul ketika orang-orang mulai memikirkan dan berdiskusi akan keadaan alam, dunia, dan lingkungan di sekitar mereka dan tidak menggantungkan diri kepada [agama] lagi untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini.
Banyak yang bertanya-tanya mengapa filsafat muncul di Yunani dan tidak di daerah yang beradab lain kala itu seperti Babilonia, Yudea (Israel) atau Mesir. Jawabannya sederhana: di Yunani, tidak seperti di daerah lain-lainnya tidak ada kasta pendeta sehingga secara intelektual orang lebih bebas.
Orang Yunani pertama yang bisa diberi gelar filsuf ialah Thales dari Mileta, sekarang di pesisir barat Turki. Tetapi filsuf-filsuf Yunani yang terbesar tentu saja ialah: Sokrates, Plato dan Aristoteles. Sokrates adalah guru Plato sedangkan Aristoteles adalah murid Plato. Bahkan ada yang berpendapat bahwa sejarah filsafat tidak lain hanyalah “Komentar-komentar karya Plato belaka”. Hal ini menunjukkan pengaruh Plato yang sangat besar pada sejarah filsafat.
Buku karangan plato yg terkenal adalah berjudul “etika, republik, apologi, phaedo, dan krito”.

Gw termasuk pengagum aliran2 filsafat yang agak nyeleneh. Karena masing2 filsuf terkenal pasti punya aliran masing2 atau pokok apa yang jadi fokus mereka dalam berfilsafat. Salah satunya adalah paham romantisisme yang kuat terasa dalam karya2 gubahan Beethoven.

Contoh berpikir ala filsuf yang pernah gw baca;

“Dari sudut pandang logika murni atau filosofis akan sering timbul ketegangan dialektis antara dua konsep.”

“Misalnya?”

“Jika aku merenungkan konsep ‘ada’, aku terpaksa memperkenalkan konsep sebaliknya, ‘tiada’. Kamu tidak dapat merenungkan keberadaanmu tanpa segera menyadari bahwa kamu tidak akan selalu ada. Ketegangan antara ‘ada’ dan ‘tiada’ menjadi cair dalam konsep ‘menjadi’. Sebab jika sesuatu itu sedang dalam proses menjadi, ia sekaligus ada dan tiada.”

(~Jostein Gaarder; SW)

Konsep ada dan atau tiada itu sangat menarik untuk diperbincangkan dan pastinya nggak akan habis dalam waktu semalam. Malah selamanya.
Seperti kalo gw iseng merusak suasana dengan bertanya, “Duluan telur atau ayam?” maka jawabannya bisa panjang.
Harus ada alasan logis yang mendasari sanggahan dari tiap argumen masing2. Bertahan atau menyerang.
Kalau belum siap berpikir, jangan memulai filsafat. 🙂

Ditunggu ya postingan selanjutnya ttg filsafat…. 😀
(NB: lagi semangat bahas filsafat gara2 tadi sempet debat kecil ttg pelajaran paling seru selain ilmu eksak!!)

Advertisements

About BrokenInfinity8

There's no 'forever'... The infinite is already broken. View all posts by BrokenInfinity8

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: