Obsessive Compulsive Disorder

Sebagian orang berpendapat, penulis tidak boleh terlalu banyak membaca karena bisa mengubah gaya tulisannya.
Sebagian lagi berpendapat, penulis harus banyak membaca untuk memperluas wawasannya.
Kunci dari pro-kontra di atas sebenarnya mudah saja, kita menulis karena apa yang kita inginkan, sedangkan membaca adalah sumber referensi, jangan dianggap sebagai kutub magnet yang saling tarik menarik.

Salah seorang temen gw adalah seorang penulis handal. Terkenal di beberapa website sebagai author dan script writer. Orangnya cerdas dan menarik dari segi penampilan. Tapi, di luar semua itu dia juga seorang yang paranoid untuk membaca. Berita di koran atau website dibaca hanya judulnya. Dia nggak mau kalau nanti gaya tulis si reporter dalam berita itu membuat dia kehilangan ‘jati diri’ penulisannya.
Entah lucu, serius, dan karakter lainnya, sebenarnya sangat mudah ia gunakan dalam tulisannya. Tapi, rasa itu nggak bisa hilang, katanya.

Bisa dibilang dia perfeksionis dalam tiap langkah yang dia ambil. Takut melakukan kesalahan menjadi salah satu alasan untuk dia menjadi manusia planner yang siap dengan worst-scenario.
Gw nggak akan bilang itu adalah satu hal yang buruk, tapi seharusnya pekerjaan itu dibawa santai, jangan penuh dengan tekanan.

Kemarin akhirnya dia curhat sm gw tentang hal ini. Kebiasaan buruknya untuk sempurna di segala kesempatan mulai dirasa mengganggu. Dia capek juga akhirnya ngecek time planner, calendar, memo pad, task reminder sampai personal sticky note yang tersebar dimana2 di buku catatan pribadinya.
Dia mengaku nggak bisa hidup tanpa keteraturan.

Gw mulai menyebut apa yang dia rasakan itu sebagai gejala OCD (Obsessive Compulsive Disorder) atau gangguan obsesif-kompulsif. Di luar negeri, penyakit ini cukup banyak penderitanya dan mengidap 1 dari 5 orang dewasa.
OCD sendiri adalah gangguan kecemasan yang ditandai dengan pikiran mengganggu yang menghasilkan kegelisahan, ketakutan, takut, atau khawatir, oleh perilaku repetitif yang ditujukan untuk mengurangi kecemasan yang berhubungan, atau dengan kombinasi obsesi dan seperti kompulsi .
Gangguan obsesif-kompulsif mempengaruhi anak-anak dan remaja, serta orang dewasa. Sekitar sepertiga sampai setengah dari orang dewasa dengan OCD laporan awal masa kanak-kanak dari gangguan, menunjukkan kontinum gangguan kecemasan di seluruh rentang kehidupan.

Temen gw mulai khawatir lagi dengan hal yang asing di telinganya ini.
Memang di Indonesia, gangguan OCD ini masih jarang terdengar dan belum banyak dikenal kalangan masyarakat Indonesia.
Tanda-tanda paling umum dari gangguan ini adalah berlebihan mencuci atau membersihkan, memeriksa berulang, penimbunan barang, terlalu senang memikirkan sex, melakukan kekerasan atau hal2 lain yang berlebihan dan mungkin berhubungan dengan agama; obsesi dengan suatu hubungan , keengganan untuk nomor-nomor tertentu, dan punya ritual tertentu yang aneh dan dengan tujuan yang tidak jelas, seperti membuka dan menutup pintu sejumlah kali sebelum memasuki atau meninggalkan ruangan.

Penyebabnya ada diantara faktor biologis dan faktor psikologis.
Berdasarkan faktor biologis, OCD telah dikaitkan dengan kelainan dengan neurotransmitter serotonin, walaupun bisa berupa penyebab atau efek dari kelainan ini. Serotonin diduga memiliki peran dalam mengatur kecemasan. Untuk mengirim pesan-pesan kimiawi dari satu neuron ke yang lain, serotonin harus mengikat reseptor situs yang terletak di sel saraf tetangga. Ini adalah hipotesis bahwa reseptor serotonin penderita OCD mungkin relatif tidak terstimulasi.
Berdasarkan faktor psikologis, penderita OCD merasa nyaman dan aman dengan apa yang dilakukannya, sehingga kemudian menjadi kebiasaan untuk mempertahankan rasa aman tersebut
Diagnosis formal dapat dilakukan oleh seorang psikolog, psikiater, pekerja sosial klinis, atau kesehatan mental berlisensi profesional lainnya. Namun para peneliti belum menentukan penyebab pasti OCD, tapi perbedaan otak, pengaruh genetik, dan faktor lingkungan sedang diteliti.

 

Dalam Wikipedia disebutkan bahwa, ciri orang yang mengidap OCD ada 6, yaitu:
Obsesi:

1. Pikiran, dorongan, dan bayangan yang menetap dan berulang, dan menyebabkan kecemasan dan stress.

2. Pikiran, dorongan, dan bayangan itu bukan semata kecemasan berlebihan terhadap masalah kehidupan yang nyata.

3. Pengidap mencoba untuk mengabaikan atau menekan pikiran, dorongan, dan bayangan tersebut atau menetralisasinya dengan pikiran dan tindakan lainnya.

4. Pengidap mengetahui bahwa pikiran, dorongan, dan bayangan obsesif-nya hanyalah produk pikirannya semata, dan tidak didasarkan atas kenyataan.

Kompulsi

5. Perilaku atau sikap mental berulang, buah dari obsesi yang dimiliki, atau yang rasanya harus dilakukan sesuai dengan aturan yang dilaksanakan secara ketat.

6. Perilaku atau sikap mental tersebut bertujuan untuk mencegah atau mengurangi stress, atau mencegah datangnya kejadian yang mengerikan, sekalipun perilaku dan sikap mental tersebut tidak berhubungan dengan kejadian mengerikan (yang dikhawatirkan) tersebut.

 

 

Tapi nggak perlu khawatir, OCD itu masih bisa disembuhkan dengan berbagai cara, antara lain:

  1. Terapi perilaku
  2. Terapi obat-obatan
  3. Terapi electroconvulsive (ECT)
  4. Psychosurgery. Dalam prosedur ini, bedah lesi dibuat di daerah otak (korteks cingulate). Hal ini hanya dilakukan bila obat2an dan terapi perilaku tidak berhasil mengurangi gejala OCD yang dialami penderita.

Satu yang pernah gw denger ttg terapi OCD adalah dengan cara menyadari sendiri pola yang sering atau biasa dijalani pengidap OCD tersebut. Lalu mulai menghentikan kebiasaan yang ada tanpa menciptakan kebiasaan baru.
Kunci suksesnya terapi ini adalah bantuan dari orang2 sekitar yang bisa mengingatkan dan menenangkan. Tentunya juga harus ada kemauan dari si penderita untuk sembuh dan mau mengikuti anjuran dari orang di sekitarnya.

Hmm… jadi kapan terakhir kali lo menangis? 😛

 

 

Sumber:
Wikipedia & Google

Advertisements

About BrokenInfinity8

There's no 'forever'... The infinite is already broken. View all posts by BrokenInfinity8

One response to “Obsessive Compulsive Disorder

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: