Feminisme di Mata Laki-Laki

Langsung aja, sebelum mood nulis gw ilang seperti uap, gw menghadirkan postingan ini….
Sesuai keinginan gw kemarin, gw pengin sedikit ngebahas tentang feminisme.

 

Feminisme yang tokohnya disebut feminis adalah sebuah gerakan perempuan yang menuntut emansipasi atau kesamaan dan keadilan hak dengan pria. Pengertian lainnya dari feminisme adalah pembedaan terhadap hak hak perempuan yang didasarkan pada kesetaraan perempuan dan laki laki.
Feminisme berasal dari bahasa Latin, femina atau perempuan.
Istilah ini mulai digunakan pada tahun 1890-an, mengacu pada teori kesetaraan laki-laki dan perempuan serta pergerakan untuk memperoleh hak-hak perempuan.

Tokoh feminis Indonesia yang paling terkenal adalah R.A. Kartini.

 

Masuk ke paham atau aliran feminisme yang lazim terdengar di seluruh dunia, beberapa di antaranya, antara lain:

  • Feminisme Liberal ialah terdapat pandangan untuk menempatkan perempuan yang memiliki kebebasan secara penuh dan individual. Aliran ini menyatakan bahwa kebebasan dan kesamaan berakar pada rasionalitas dan pemisahan antara dunia privat dan publik. Setiap manusia -demikian menurut mereka- punya kapasitas untuk berpikir dan bertindak secara rasional, begitu pula pada perempuan. Akar ketertindasan dan keterbelakngan pada perempuan ialah karena disebabkan oleh kesalahan perempuan itu sendiri. Perempuan harus mempersiapkan diri agar mereka bisa bersaing di dunia dalam kerangka “persaingan bebas” dan punya kedudukan setara dengan lelaki.
  • Feminisme Radikal. Trend ini muncul sejak pertengahan tahun 1970-an di mana aliran ini menawarkan ideologi “perjuangan separatisme perempuan”. Pada sejarahnya, aliran ini muncul sebagai reaksi atas kultur seksisme atau dominasi sosial berdasar jenis kelamin di Barat pada tahun 1960-an, utamanya melawan kekerasan seksual dan industri pornografi. Pemahaman penindasan laki-laki terhadap perempuan adalah satu fakta dalam sistem masyarakat yang sekarang ada. Dan gerakan ini adalah sesuai namanya yang “radikal”.
  • Feminisme post modern. Ide Posmo – menurut anggapan mereka – ialah ide yang anti absolut dan anti otoritas, gagalnya modernitas dan pemilahan secara berbeda-beda tiap fenomena sosial karena penentangannya pada penguniversalan pengetahuan ilmiah dan sejarah. Mereka berpendapat bahwa gender tidak bermakna identitas atau struktur sosial.
  • Feminisme anarkis lebih bersifat sebagai suatu paham politik yang mencita-citakan masyarakat sosialis dan menganggap negara dan sistem patriaki-dominasi lelaki adalah sumber permasalahan yang sesegera mungkin harus dihancurkan.
  • Feminisme Marxis. Aliran ini memandang masalah perempuan dalam kerangka kritik kapitalisme. Asumsinya sumber penindasan perempuan berasal dari eksploitasi kelas dan cara produksi. Teori Friedrich Engels dikembangkan menjadi landasan aliran ini—status perempuan jatuh karena adanya konsep kekayaaan pribadi (private property). Kegiatan produksi yang semula bertujuan untuk memenuhi kebutuhan sendri berubah menjadi keperluan pertukaran (exchange). Laki-laki mengontrol produksi untuk exchange dan sebagai konsekuensinya mereka mendominasi hubungan sosial. Sedangkan perempuan direduksi menjadi bagian dari property. Sistem produksi yang berorientasi pada keuntungan mengakibatkan terbentuknya kelas dalam masyarakat—borjuis dan proletar. Jika kapitalisme tumbang maka struktur masyarakat dapat diperbaiki dan penindasan terhadap perempuan dihapus.
  • Feminisme sosialis. Sebuah faham yang berpendapat “Tak Ada Sosialisme tanpa Pembebasan Perempuan. Tak Ada Pembebasan Perempuan tanpa Sosialisme”. Feminisme Sosialis berjuang untuk menghapuskan sistem pemilikan. Lembaga perkawinan yang melegalisir pemilikan pria atas harta dan pemilikan suami atas istri dihapuskan seperti ide Marx yang menginginkan suatu masyarakat tanpa kelas, tanpa pembedaan gender.
  • Feminisme postkolonial. Dasar pandangan ini berakar di penolakan universalitas pengalaman perempuan. Beverley Lindsay dalam bukunya Comparative Perspectives on Third World Women: The Impact of Race, Sex, and Class menyatakan, “hubungan ketergantungan yang didasarkan atas ras, jenis kelamin, dan kelas sedang dikekalkan oleh institusi-institusi ekonomi, sosial, dan pendidikan.”
  • Feminisme Nordic. Kaum Feminis Nordic dalam menganalisis sebuah negara sangat berbeda dengan pandangan Feminis Marxis maupun Radikal.Nordic yang lebih menganalisis Feminisme bernegara atau politik dari praktik-praktik yeng bersifat mikro. Kaum ini menganggap bahwa kaum perempuan “harus berteman dengan negara” karena kekuatan atau hak politik dan sosial perempuan terjadi melalui negara yang didukung oleh kebijakan sosial negara.

 

Selanjutnya yang pengin gw bahas adalah dasar kesetaraan hak antara perempuan dan laki-laki itu sendiri.
Gw sebagai laki-laki selalu menganggap perempuan adalah makhluk yang lemah secara fisik. Sehingga anggapan gw adalah, kesetaraan hak bukan berarti kesetaraan kewajiban.
Sebagai laki-laki jg kita harus bisa menempatkan diri dalam membantu peran perempuan, bukan malah menjatuhkan perannya. Karena setinggi-tingginya jabatan lo sebagai laki-laki, akan selalu ada ibu yg mengandung dan melahirkan lo.
Gw mendukung kebebasan perempuan dalam memilih perannya di masyarakat dan di keluarga.
Biar gimanapun kesetaraan perempuan dalam masyarakat menentukan nilai masyarakat tersebut.

Support Women’s right!!

Sekarang, menurut lo, jenis feminis mana yang paling tepat dari beberapa jenis feminisme di atas??

 

 

Keluarga bagi anak perempuan adalah institusi yang tragis. Di sana cinta berada, namun dari sana pula siksa itu dimulai dan itu semua karena tubuh keperempuanan yang hendak disangkal.

–Ibu yang melahirkan anak sebelum dia dapat melahirkan dirinya sendiri akan beresiko menghadirkan anak perempuan yang tidak mandiri. Ibu-ibu yang seperti ini akan menolak anaknya yang tumbuh dan dewasa, yang ingin pergi darinya. Mereka terjebak dalam maternity envy, kemarahan, ketidakamanan, depresi dan terus bersatu dalam hubungan yang penuh pertempuran.

–Keluarga seringkali mengajarkan pada perempuan untuk menggunakan seksualitasnya dalam merencanakan masa depan mereka. Terobsesi dengan kecantikan, mereka yang tidak mengetahui bagaimana berprestasi dalam bidang akademik, tidak mampu bekerja dalam pekerjaan yang memberi harga diri pada mereka.

 

“Susi Fitri; kata penutup – Warisan Keluarga, Warisan Horror”

Advertisements

About BrokenInfinity8

There's no 'forever'... The infinite is already broken. View all posts by BrokenInfinity8

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: